FILSAFAT: Epistemologi Ilmu untuk Berpikir Secara Benar

FILSAFAT: Epistemologi Ilmu untuk Berpikir Secara Benar


BERFILSAFAT pasti berpikir. Tetapi, berpikir belum tentu berfilsafat. Lebih khusus lagi, berlogika pasti berpikir, tetapi berpikir belum tentu berlogika.
Logika umum
Dengan kata lain, semua orang memang bisa berlogika, tetapi logika mereka adalah logika umum dan bersifat spekulatif dan subyektif.
Logika khusus atau logika ilmiah
Sedangkan logika ilmiah adalah logika berdasarkan kaidah-kaidah yang sudah teruji kebenarannya dan bersifat objektif.
Pada dasarnya ada dua macam logika
Yaitu logika formal dan logika material.
-Logika formal atau “silogisme”
yaitu logika yang kesimpulannya hanya sampai pada tingkat logis. Logis artinya bisa benar dan bisa tidak benar. Jadi, sifatnya masih spekulatif atau untung-untungan.
-Sedangkan logika material atau “epistemologi”
adalah logika yang didukung pengetahuan dan ilmu pengetahuan yang telah teruji kebenarannya.
Kebenaran memang tergantung dari sudut pandang masing-masing. Tetapi orang lupa atau mungkin belum tahu bahwa kebenaran memiliki nilai, mulai dari 1% hingga 99%. Ilmunya disebut logika material atau epistemologi.
Syarat-syarat berepistemologi
Syarat-syarat berepistemologi sebenarnya tidak mudah. Oleh karena itu banyak orang gagal belajar epistemologi.
Syarat-syarat tersebut antara lain:
1.Mempunyai IQ tinggi
2.Mempunyai banyak pengalaman, pengetahuan dan ilmu pengetahuan
3.Memahami semua kaidah-kaidah epistemologi
Ketiga syarat tersebut merupakan syarat mutlak.
Kaidah-kaidah berlogika
Kaidah-kaidah berlogika ternyata sangat banyak. Mungkin ada ribuan kaidah. Karena, tiap kasus, ada cara berlogikanya sendiri. Apa yang dianggap benar oleh masyarakat, belum tentu benar.
Contoh I:
Orang beranggapan bahwa sepeda motor roda tiga hanya untuk orang cacat. Padahal, tidak ada undang-undang atau peraturan yang melarang orang tidak cacat untuk menggunakan sepeda motor roda tiga.
Contoh II:
Warga yang tidak ikut kerja bakti, dikenakan denda wajib yang besarnya juga ditentukan. Katanya, itu sudah merupakan keputusan rapat RT/RW yang disetujui sebagian warga. Padahal, kerjabakti adalah kerja sosial yang bersifat sukarela sehingga dendanya pun harus bersifat sukarela, baik pembayaran maupun besarannya.
Contoh III:
Ketika Sri Mulyani Indrawati diangkat sebagai Managing Director di World Bank, maka banyak masyarakat Indonesia yang merasa bangga karena anak bangsa Indonesia bisa menduduki jabatan bertaraf internasional. Padahal itu rasa bangga dan cara berlogika yang salah. Sebab, Sri Mulyani akan bekerja demi kepentingan sekitar 74 negara asing. Bukan demi kepentingan bangsa dan negara Indonesia.
Contoh IV
Pemakaian gelar S1 dan S2 sekaligus.
Contoh: SH,MH atau SE,MM, atau ST,MSa dll
Alasanya: S1 dan S2 berbeda ilmu atau berbeda fakultas/universitas.
Jelas itu merupakan kesalah berlogika yang fatal sebab S1, S2 (dan S3) adalah jenjang pendidikan.
Banyak sarjana merasa itu benar padahal itu cermin logika yang tumpul.
Contoh V
Banyak sarjana berpendapat bahwa gelar yang tertulis di ijasah adalah benar karena dikeluarkan oleh pihak yang kompeten.Jangan lupa, kompeten di sini adalah kompeten mengeluarkan ijasah itu. Tapi depdiknas,kopertis atau lembaga pendidikan tidak kompeten mengatakan gelar itu salah atau benar.Sebab benar atau tidaknya gelar harus berdasarkan analisa linguistik dan epistemologi.
Contoh VI
Gelar H (Haji) atau Hj (Hajah) bukanlah ajaran Al Qur’an.Bukan ajaran hadist.Bukan ajaran Tuhan.Malainkan dipopulerkan orang Belanda bernama Marten van Bruinessen di zaman Kusultanan banten dengan tujuan membuat “kasta-kasta Islam”.Namun banyak umat Islam ngeyel memakai gelar H dan Hj dengan alasan itu sudah menjadi “buidaya” Indonesia. Padahal, yang disebut budaya haruslah ASLI karya bangsa Indonesia. Asli dari nenek moyang kita dan bersifat turun-temurun (heritage).
Masih banyak yang bodoh
Orang Indonesia merasa bangga kalau sudah menyandang gelar S1,S2,S3 ataupun profesor. Padahal, menurut pengamatan dan pengalaman saya, banyak di antara mereka menggunakan cara berpikir berbasiskan kaidah-kaidah yang salah.
1000 kesalahan berlogika
Tahun 1980-1990 saya pernah melakukan survei di Yogya dan Jakarta. Hasilnya, saya berhasil mengumpulkan 1.000 kesalahan berlogika dari kalangan mahasiswa dan sarjana.
Banyak orang meremehkan ilmu filsafat.
Padahal ilmu filsafat adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku pemikiran seseorang. Epistemologi adalah cabang dari ilmu filsafat yang mempelajari cara berpikir benar berdasarkan kaidah-kaidah yang telah teruji kebenarannya ditunjang dengan pengetahuan, ilmu pengetahuan dan pengalaman yang memadai.
Jadi, walaupun punya gelar S1,S2,S3 maupun profesor, maka masih sangat besar mereka melakukan kesalahan dalam berlogika.